Filsafat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara - Silabus.
Maybe your like
Filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara disebut dengan filsafat pendidikan among yang di dalamnya merupakan konvergensi dari filsafat progresivisme tentang kemampuan kodrati anak untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi dengan memberikan kebebasan berpikir seluas-luasnya, dipadukan dengan pemikiran esensialisme yang memegang teguh kebudayaan yang sudah teruji selama ini. Dalam hal ini Ki Hadjar Dewantara menggunakan kebudayaan asli Indonesia sedangkan nilai-nilai dari Barat diambil secara selektif adaptatif sesuai dengan teori trikon (kontinyuitas, konvergen dan konsentris). Tiga kontribusi filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara terhadap pendidikan Indonesia adalah penerapan trilogi kepemimpinan dalam pendidikan, tri pusat pendidikan dan sistem paguron.
Globalisasi yang dipengaruhi oleh kepentingan pasar menyebabkan pendidikan tidak sepenuhnya dipandang sebagai upaya mencerdaskan bangsa dan proses pemerdekaan manusia tetapi mulai bergeser menuju pendidikan sebagai komoditas (Saksono, 2010: 76). Pengaruh globalisasi yang sedang dan akan berlangsung akan berpengaruh terus-menerus sampai waktu yang tidak ditentukan dan ini semakin sulit untuk diatasi. Melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada masa-masa yang akan datang, rasanya sangat berat sehingga bangsa Indonesia harus secara serius menangani masalah ini.
Globalisasi telah mengakibatkan pergeseran tujuan pendidikan nasional dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi yang tidak lagi hanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi lebih berfokus untuk menghasilkan lulusan yang menguasai scientia. Dengan penguasaan scientia dinilai mengarahkan peserta didik kepada hasil yang bersifat pragmatis dan materialis, karena kurang membekali peserta didiknya dengan semangat kebangsaan, semangat keadilan sosial, serta sifatsifat kemanusiaan dan moral luhur sebagai warga negara (Saksono, 2010: 76). Bangsa Indonesia saat ini dihadapkan pada krisis karakter yang cukup memprihatinkan. Demoralisasi mulai merambah di dunia pendidikan seperti ketidakjujuran, ketidakmampuan mengendalikan diri, kurangnya tanggung jawab sosial, hilangnya sikap ramah-tamah dan sopan santun (Sutiyono dalam Jurnal Cakrawala Pendidikan, 2010: 42).
Untuk menangkal model pendidikan semacam itu maka konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara ditawarkan sebagai solusi terhadap distorsi-distorsi pelaksanaan pendidikan di Indonesia dewasa ini. Ki Hadjar Dewantara mengatakan hendaknya usaha kemajuan ditempuh melalui petunjuk “trikon”, yaitu kontinyu dengan alam masyarakat Indonesia sendiri, konvergen dengan alam luar, dan akhirnya bersatu dengan alam universal, dalam persatuan yang konsentris yaitu bersatu namun tetap mempunyai kepribadian sendiri (Dewantara, 1994: 371).
Pestalozzi, Frobel dan Maria Montessori adalah tokoh-tokoh pendidikan yang berpengaruh pada Ki Hadjar dalam menggunakan kebudayaan di dalam kurikulum pendidikan. Mulai dari TK (Taman Kanakkanak/Taman Indria) sampai sekolah menengah unsur-unsur kebudayaan lokal dimasukkan dalam kurikulum untuk melatih panca indera jasmani, kecerdasan dan utamanya adalah kehalusan budi pekerti. Pelajaran yang diberikan di Taman Indria mulai dari dolanan anak, mendongeng, hingga sariswara yaitu menggabungkan antara lagu, cerita dan sastra. Nilai-nilai budaya ini dimaksudkan untuk mendidik rasa, pikiran dan budi pekerti. Anak-anak yang sudah agak besar, misalnya di Sekolah Menengah Pertama (Taman Dewasa) dan Sekolah Menengah Atas (Sekolah Menengah Madya), diberikan pelajaran olah gendhing.
Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa olah gendhing dan seni tari adalah untuk memperkuat dan memperdalam rasa kebangsaan (Dewantara, 2011: 344). Tari Bedoyo dan Tari Serimpi diberikan kepada anak didik karena merupakan kesenian yang amat indah yang mengandung rasa kebatinan, rasa kesucian, dan rasa keindahan.
Konsepsi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan
Ki Hadjar Dewantara mengajukan beberapa konsep pendidikan untuk mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan, yaitu Tri Pusat Pendidikan: (1) pendidikan keluarga; (2) pendidikan dalam alam perguruan; dan (3) pendidikan dalam alam pemuda atau masyarakat.
Ki Hadjar Dewantara memasukkan kebudayaan dalam diri anak dan memasukkan diri anak ke dalam kebudayaan mulai sejak dini, yaitu Taman Indria (balita). Konsep belajar ini adalah Tri No, yaitu nonton, niteni dan nirokke. Nonton (cognitive), nonton di sini adalah secara pasif dengan segenap panca indera. Niteni(affective) adalah menandai, mempelajari, mencermati apa yang ditangkap panca indera, dan nirokke (psychomotoric) yaitu menirukan yang positif untuk bekal menghadapi perkembangan anak (Dwiarso, 2010: 1).
Ketika anak didik sudah menginjak pada pendidikan Taman Muda (Sekolah Dasar), kemudian Taman Dewasa dan seterusnya maka konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara adalah Ngerti, Ngroso lan Nglakoni. Model pendidikan ini dimaksudkan supaya anak tidak hanya dididik intelektualnya saja (cognitive), istilah Ki Hadjar Dewantara ‘ngerti’, melainkan harus ada keseimbangan dengan ngroso (affective) serta nglakoni (psychomotoric). Dengan demikian diharapkan setelah anak menjalani proses belajar mengajar dapat mengerti dengan akalnya, memahami dengan perasaannya, dan dapat menjalankan atau melaksanakan pengetahuan yang sudah didapat dalam kehidupan masyarakat.
Sebagai bagian akhir dari hasil pendidikan, menurut Ki Hadjar Dewantara, adalah menghasilkan manusia yang tangguh dalam kehidupan masyarakat. Manusia yang dimaksud adalah manusia yang bermoral Taman Siswa, yaitu mampu melaksanakan Tri Pantangan yang meliputi tidak menyalahgunakan kewenangan atau kekuasaan, tidak melakukan manipulasi keuangan dan tidak melanggar kesusilaan (Ki Suratman, 1987 : 13)
Konsepsi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Progresivisme
Progresivisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuankemampuan yang wajar dan dapat menghadapi dan mengatasi masalah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam adanya manusia itu sendiri. Berhubung dengan itu progresivisme kurang menyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoriter, baik yang timbul pada jaman dahulu maupun pada jaman sekarang (Barnadib, 1982: 28). Berikut adalah penjelasan konsep-konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam perspektif Progresivisme.
Sumber Bacaan
Ki Suratman, 1987, Tugas Kita Sebagai Pamong Taman Siswa, Majelis Luhur Yogyakarta.
Dwiarso, Priyo, 2010, Napak Tilas Ajaran Ki Hadjar Dewantara, Majelis Luhur Pesatuan,Yogyakarta.
Dewantara, Ki Hadjar, 1994, Kebudayaan, Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, Yogyakarta.
Sutiyono, 2010, “Pendidikan Seni Sebagai Basis Pendidikan Karakter Multikulturalis” dalam Cakrawala Pendidikan Jurnal Ilmiah Pendidikan, No. XXIX. Edisi Khusus Dies Natalis UNY, Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia D.I. Yogyakarta.
Saksono, Gatut Ign, 2010, Pendidikan Yang Memerdekakan Siswa, Diandra Primamitra Media, Yogyakarta.
Tag » Aliran Filsafat Ki Hajar Dewantara
-
FILSAFAT PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA DAN ...
-
[PDF] FILSAFAT PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA DAN ... - Neliti
-
[PDF] FILSAFAT PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA (TOKOH TIMUR)
-
[PDF] PEMIKIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA
-
Mendalami Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara - ISPI
-
Pemikiran Filsuf KI HAJAR DEWANTARA - SlideShare
-
Ki Hajar Dewantara Dan Sekilas Filsafat Pendidikannya - SlideShare
-
Perspektif Filsafat Ilmu Dalam Pemikiran Pendidikan Ki Hajar ...
-
FILSAFAT PENDIDIKAN MENURUT PERSPEKTIF JAWA (Studi ...
-
Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara (tokoh Timur) - ResearchGate
-
FILSAFAT PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA SEBAGAI ...
-
Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara - GURU CERIA
-
Kampus Merdeka Dalam Perspektif Pemikiran Ki Hajar Dewantara ...
-
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Tentang Pendidikan Perspektif ...