Schadenfreude, Alasan Merasa Senang Melihat Orang Gagal 0 komentar BAGIKAN Tautan telah disalinMENU
detikcom
Terpopuler
Live TV
Kirim Tulisan
Kategori Berita
detikNews
detikFinance
detikInet
detikHot
detikSport
Sepakbola
detikOto
detikTravel
detikFood
detikHealth
Wolipop
DetikX
20Detik
detikFoto
detikEdu
detikHikmah
detikProperti
detikPop
Daerah
detikJateng
detikJatim
detikJabar
detikSulsel
detikSumut
detikBali
detikSumbagsel
detikJogja
detikKalimantan
Layanan
For Your Business
Pasang Mata
adsmart
detikEvent
Trans Snow World
Trans Studio
Flying Over Indonesia
berbuatbaik.id
ziswafctarsa.id
Signature Awards
Bingkai.id
Trans Hotel Group
Community Connect NEW
Rekomendit NEW
Detik Network
CNN Indonesia
CNBC Indonesia
Hai Bunda
InsertLive
Beautynesia
Female Daily
CXO Media
CancelYang sedang ramai dicari
Loading...
Promoted Terakhir yang dicariLoading...
Home
Berita Sehat
Wellness & Diet
Konsultasi
Seks Sehat
True Story
Asah Otak
Foto
Video
Infografis
Indeks
Terpopuler
Koleksi Pilihan
Tanya Dokter & Ahli
Tes Psikologi
Bank Obat
Bank Penyakit
detikHealth Berita Detikhealth Schadenfreude, Alasan Merasa Senang Melihat Orang Gagal Widiya Wiyanti - detikHealth Sabtu, 05 Jan 2019 15:07 WIB Ilustrasi iri hati. Foto: ThinkstockJakarta - Tidak dipungkiri bahwa terkadang ada sifat yang kurang baik dalam diri manusia. Salah satunya saat diri ini merasa senang ketika melihat orang gagal atau tertimpa kemalangan.Ternyata ada alasan psikologis di balik perasaan tersebut. Yaitu disebut dengan Schadenfreude, berasal dari bahasa Jerman yang secara harfiah berarti kesalahan yang menyenangkan.Dikutip dari Psychology Today, Schadenfreude ini sering dianggap sebagai iri hati. Ada dua ciri dari Schadenfreude, yaitu kesenangan kita dan kemalangan orang lain. Ini menggambarkan adanya konflik antara perhatian yang komparatif terhadap situasi dan evaluasi negatif dari orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Ada Orang Selfie di Lokasi Bencana? Tak Usah Tunggu Viral, Tegur Saja
Sementara itu, dikutip dari Daily Mail, para peneliti mengatakan bahwa Schadenfreude muncul dari dinamika antarkelompok. Schadenfreude ini mulai berkembang pada awal kehidupan anak-anak.Berdasarkan beberapa penelitian, Schadenfreude adalah emosi kompleks yang tertanam di diri manusia. Menurut psikolog Scott Lilienfeld, Philippe Rochat, dan Shensheng Wang, Schadenfreude merupakan dehumanisasi. Yaitu tindakan menggambarkan dan memandang orang lain secara kurang manusiawi.Para psikolog itu mengatakan bahwa semakin empati seseorang terhadap orang lain, maka semakin kecil kemungkinan mereka mengalami Schadenfreude.
Baca juga: Psikolog Tak Sarankan Pacaran Backstreet
(wdw/up) emosi psikologis senang iri hati Berita Terkait
 
 
 
 
 
 
 
 
Berita detikcom Lainnya detikOto Gaspol! Lepas Resmikan 3 Dealer dalam Seminggu Wolipop Ramalan Zodiak 31 Januari: Aries Jaga Sikap, Gemini Kontrol Emosi Sepakbola Curtis Jones Ribut dengan Arne Slot? detikFood Punya 4 Kios! Ini Soto Kudus Paling Laris di Pasar 8 Alam Sutera detikTravel Cita Rasa Sunda yang Menggoyang Lidah Saat Kulineran di Bandung detikFinance Mau Tukar Uang ke Money Changer Malah Dirampok Dekat Stasiun, Rp 45 Miliar Melayang detikHealth Kisah Pasien Bisa Bertahan Hidup 48 Jam Tanpa Paru-paru Jelang Operasi detikNews Pemprov Jakarta Tegaskan Ikan Sapu-sapu di Kali Tercemar Tak Aman Konsumsi! Hide Ads